Keluarga Mahasiswa UNIMED Asal Samosir Gelar Trauma Healing untuk Anak Korban Bencana di Tapanuli Tengah

0

Tapanuli Tengah-HarianmediaRakyat.com

Keluarga Mahasiswa Universitas Negeri Medan (UNIMED) asal Samosir yang memiliki jargon “Sahata, Samudar, Dosniroha” menggelar kegiatan Trauma Healing bagi masyarakat terdampak bencana alam di Lapangan GOR Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. Kegiatan kemanusiaan ini dilaksanakan selama tiga hari, mulai 13 hingga 15 Desember 2025, dengan sasaran utama anak-anak pengungsi.

Kegiatan Trauma Healing ini bertujuan untuk membantu mengembalikan suasana psikologis anak-anak yang terdampak bencana, mengurangi rasa trauma, serta menjaga semangat, motivasi, dan harapan mereka agar tidak tenggelam akibat musibah yang dialami.

Sebelum pelaksanaan kegiatan, Keluarga Mahasiswa UNIMED asal Samosir terlebih dahulu melakukan berbagai upaya penggalangan dana. Aksi pengumpulan dana dilakukan langsung ke jalan, tepatnya di lampu merah Pancing, Medan Area, Kota Medan. Selain itu, mereka juga membuka open donasi berupa uang tunai dan pakaian layak pakai untuk mendukung keberlangsungan kegiatan sosial tersebut.

Pada 14 Desember 2025, para mahasiswa turun langsung ke Lapangan GOR Pandan untuk melaksanakan rangkaian kegiatan Trauma Healing. Tercatat sekitar ±150 anak mengikuti kegiatan ini dengan antusias dan penuh keceriaan. Kegiatan diawali dengan perkenalan bersama anak-anak, dilanjutkan dengan berbagai permainan edukatif, mendengarkan dongeng, serta pembagian alat tulis seperti buku, pulpen, pensil, penghapus, dan rautan. Tidak hanya itu, anak-anak juga mendapatkan snack serta makan malam bersama.

Keesokan harinya, pada 15 Desember 2025, Keluarga Mahasiswa UNIMED asal Samosir kembali mengunjungi lokasi pengungsian di GOR Pandan. Pada kesempatan tersebut, mereka menyalurkan bantuan berupa pakaian untuk dewasa, remaja, dan anak-anak, serta menyerahkan bantuan sembako kepada bagian logistik pengungsian.
Melalui kegiatan ini, para mahasiswa tidak hanya membawa bantuan materi, tetapi juga menghadirkan kehangatan, kepedulian, dan harapan bagi para korban bencana, khususnya anak-anak.

Perjalanan membantu korban bencana mengajarkan satu hal penting, kita tidak sedang menolong mereka, merekalah yang menolong kita. Mereka menolong kita untuk mengingat kembali cara bersyukur, cara berbagi, dan cara menjadi manusia seutuhnya.

Di tengah keterbatasan dan kondisi pascabencana, senyum anak-anak di lokasi pengungsian menjadi sumber kekuatan tersendiri. “Di balik reruntuhan, masih ada harapan yang tumbuh. Senyum adik-adik di GOR Pandan mengajarkan kita arti kuat yang sesungguhnya. Yuk, bantu jaga senyum mereka agar terus merekah!

Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa duka yang dirasakan korban adalah duka bersama. “Luka mereka adalah luka kita. Senyum mereka adalah tanggung jawab kita,” tegas panitia kegiatan.

Lebih dari sekadar aksi sosial, kegiatan Trauma Healing ini menjadi catatan perjalanan tentang menembus batas kenyamanan demi mengantar harapan, serta wujud nyata solidaritas mahasiswa dalam merespons tragedi kemanusiaan dengan empati dan aksi nyata.

Sebarkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *