HARIANMEDIARAKYAT.COM – Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Waas, memberi sinyal kuat perlunya evaluasi terhadap kinerja pengurus harian Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kota Medan menyusul munculnya informasi terkait minimnya persiapan dan pelaksanaan training center (TC) bagi peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) yang akan mewakili Kota Medan di MTQ ke-40 tingkat Provinsi Sumatera Utara.
Pernyataan itu disampaikan Rico Waas menjawab wartawan usai melepas 55 Kafilah Kota Medan menuju MTQ Sumut di Ruang Rapat III Balai Kota Medan, Jumat (12/6). Menurut Rico, pembinaan generasi Qurani tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan atau sekadar mengejar gelar juara. Ia menegaskan, prestasi para qari dan qariah harus dibangun secara berkelanjutan melalui program pembinaan yang terukur dan konsisten.
“Kita ingin para juara ini tidak hanya dikenal saat MTQ berlangsung. Suara mereka harus terus diperdengarkan, menjadi bagian dari syiar Islam di tengah masyarakat. Bahkan kalau bisa, ayat-ayat yang mereka lantunkan dikenal dan dihafal masyarakat,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Rico mengaku siap memfasilitasi pembuatan album murattal bagi qari dan qariah berprestasi agar kemampuan mereka dapat terus dinikmati masyarakat luas sekaligus menjadi motivasi bagi generasi muda Islam Kota Medan untuk mendalami firman Allah SWT tersebut.
Politisi muda Partai NasDem ini juga tampak tidak menampik adanya sorotan terhadap efektivitas penggunaan anggaran pembinaan yang selama ini dialokasikan Pemerintah Kota Medan kepada LPTQ. Mengingat, informasi yang berkembang menyebutkan persiapan peserta MTQ Kota Medan menuju tingkat provinsi dinilai belum maksimal.
Rico menegaskan bahwa persoalan tersebut menjadi tanggungjawab penuh pengurus LPTQ untuk menjelaskan kepada publik.
“Postur anggaran yang sudah diberikan semestinya bisa dioptimalkan untuk mendukung kebutuhan para peserta. Kalau tahun ini menurut LPTQ ada efisiensi anggaran, tentu akan kita evaluasi agar ke depan pembinaan bisa berjalan lebih maksimal,” katanya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi kritik tersirat terhadap kinerja pengurus harian LPTQ Kota Medan yang dinilai belum mampu memastikan proses pembinaan berjalan optimal meski dukungan anggaran terus diberikan setiap tahun.
Sorotan semakin menguat ketika muncul informasi bahwa sejumlah pengurus harian LPTQ Kota Medan juga merangkap jabatan sebagai pengurus harian LPTQ Provinsi Sumut. Kondisi ini disebut-sebut berpengaruh terhadap fokus dan efektivitas pembinaan peserta MTQ Kota Medan.
Menanggapi hal itu, Rico menilai persoalan tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius di internal LPTQ Medan.
“Ini harus menjadi pembahasan serius di internal LPTQ Medan. Yang paling penting dalam sebuah organisasi adalah bagaimana sumber daya manusia dan pertanggungjawaban kinerjanya dapat dioptimalkan,” tegasnya.
Jangan Kerja Musiman
Rico juga mengingatkan agar LPTQ tidak bekerja secara musiman. Menurutnya, begitu MTQ tingkat kota selesai dilaksanakan, strategi pembinaan untuk tahun berikutnya seharusnya sudah mulai disusun, bukan menunggu menjelang perlombaan.
Ia berharap LPTQ Kota Medan mampu menghadirkan pola pembinaan yang lebih terencana, berkelanjutan, dan berorientasi pada lahirnya qari dan qariah berkelas nasional hingga internasional.
“Setelah MTQ Kota Medan selesai, strategi untuk tahun depan harus sudah dipersiapkan dari sekarang. Bagaimana mengemas pembinaan yang lebih baik sehingga generasi Qur’an Kota Medan mampu melahirkan qari dan qariah bertaraf internasional. Itulah yang harus dipersiapkan dari sekarang,” pungkasnya.
Pernyataan wali kota tersebut menjadi sinyal bahwa keberhasilan MTQ tidak hanya diukur dari raihan juara, tetapi juga dari sejauh mana pengurus LPTQ mampu mempertanggungjawabkan anggaran dan menghadirkan sistem pembinaan yang berkelanjutan. Evaluasi terhadap kinerja pengurus harian LPTQ Medan pun tampaknya menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa lagi ditunda.




